Sunday, July 01, 2012

FINISHIN' UNFINISHED !!

Never get bored... perasaan yang selalu saya rasakan untuk sepakbola, khususnya sajian Euro 2012 ini. Walaupun officially, Euro ini tidak memberikan hadiah manis untuk saya dengan tersingkirnya Belanda secara tragis, tapi tetap memberikan cerita-cerita menarik. Setelah melewati 30 pertandingan dan 69 gol yang tercipta, akhirnya terpilih dua timnas terbaik selama turnamen, Spanyol dan Italia.

Bagi sebagian besar penikmat sepakbola, masuknya Spanyol ke final tampaknya tidak menjadi sesuatu kejutan jika melihat track record mereka di 5 tahun terakhir dengan memukau dunia melalui tiki taka nya. Menjuarai Euro 2008 dan World Cup 2010 secara berturutan, Spanyol kini siap untuk mengukir sejarah baru dengan menjadi satu-satunya tim di dunia yang dapat menjuarai 3 turnamen besar secara berturutan di mana Jerman (waktu itu masih Jerman Barat) dan Perancis tidak berhasil melakukannya. Hanya tinggal satu rintangan lagi untuk mereka untuk mencatatkan tinta emas di dalam percaturan dunia sepakbola, cuma Italia... cuma Italia. Tapi tunggu dulu, Italia ini memang ajaib, selalu bermain baik pada saat setiap penonton tidak memperkirakannya. Begitu pula sebaliknya, kadang bermain kurang maksimal pada pertandingan yang sebetulnya bisa mereka menangkan dengan mudah.

Saya mencoba flash back ke Euro 2008, pada saat Spanyol menjuarai turnamen dengan mengalahkan Jerman 1-0 di final. Vicente del Bosque waktu itu berkilah bahwa kunci juara Spanyol dalam turnamen itu bukanlah pertandingan final yang mereka menangkan, tapi justru pada perempat final melawan Italia di mana mereka melewatinya dengan sangat sulit dan harus melalui tos-tosan adu penalti. Memang dari awal, Spanyol selalu kesulitan jika menghadapi tipe permainan Italia yang sangat solid di belakang dan dipagari oleh dua gelandang bertahan yang oke punya. Italia memang selalu diberkahi oleh gelandang-gelandang bertahan yang mumpuni dan dapat berperan sebagai playmaker pada saat bersamaan. Dimulai dengan jamannya Giuseppe Meazza, Marco Tardelli, Carlo Ancelotti, Angelo di Livio, hingga jamannya De Rossi dan Pirlo sekarang ini.
Terbukti jelas bagaimana Jerman merasa kebingungan pada saat berhadapan dengan dua pemain ini, handal dalam merebut bola dan mempertahankannya, kemudian tiba-tiba memberikan operan yang sangat akurat dan membahayakan.

Spanyol juga memiliki catatan yang bagus untuk jumlah kebobolan selama turnamen berlangsung. Hanya satu gol saja yang bersarang di gawang Iker Cassilas... dan itu dilesakkan oleh Antonio di Natale di pertandingan pertama melawan Italia yang berakhir 1-1. Bukti bahwa memang hanya Italia yang sangat sulit dikalahkan pada saat berhadapan dengan Spanyol.

Taktik dari pelatih cerdas sekelas Cesare Perrandelli sangat dibutuhkan sekarang. Pada laga awal melawan Spanyol, dia menurunkan hanya 3 pemain belakang, yaaa... cuma tiga saja dan salah satunya De Rossi yang notabene seorang gelandang. Menumpuk di tengah dengan 5 orang untuk memutuskan bola-bola aliran Spanyol memang ternyata sangat efektif. Namun sayang, mereka agak lengah di menit akhir sehingga Fabregas dapat menyamakan kedudukan. Tapi dunia sudah dibuat terkagum-kagum dengan apa yang Italia coba lakukan. Dan terbukti mereka melenggang ke final.

Masalah utamanya adalah Spanyol sudah tahu taktik ini, dan pastinya akan del Bosque akan meramu kembali taktik mereka untuk menghadapi pressure-pressure gelandang bertahan Italia. Skema "False 9" yang selalu digunakan mungkin akan dirubah sedikit, untuk mencari celah di dalam pertahanan Italia. "False 9" yang tidak menggunakan striker murni ini memang berhasil untuk mengecoh lawan pada saat akan melakukan man to man marking, tapi sepertinya tipe pertahanan yang digalang Italia terlalu kokoh dan lebih memainkan zona marking. Crossing pun sering patah di kepala Chielini, dribbling akan dihadang tackling dari Bonucci, sehingga satu-satunya cara adalah dengan tusukkan-tusukkan langsung yang dikombinasikan dengan pergerakan without ball setiap pemain tengahnya. Dan tetap berusaha mematikan Pirlo juga Marchisio untuk memberikan sedikit pressure pada pemain Italia yang lain.

Akhirnya mental akan menjadi penentu, dua kapten yang sudah sangat teruji untuk masalah seperti ini akan menjadi tulang punggung untuk selalu menyemangati dan mempertahankan kekompakan tim. Buffon dan Cassilas memang sudah menjadi kiper terbaik dunia abad ini ke satu dan ke dua, keduan pun pernah mengangkat Piala Dunia, tapi pertandingan bergengsi ini tidak akan menjadi ajang buat keduanya untuk tetap bersaing di level tingkat tinggi. Keduanya sudah membuktikan kehandalan dalam menghadang adu penalti, tapi saya yakin kedua tim akan menghindari adu penalti.

Besok akan menjadi penentuannya, Spanyol dan Italia akan menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai... Are you ready? Let's enjoy the game... :)

No comments: