Tuesday, April 24, 2012

Seruan ALLAH di Bantaran Batanghari

Kriiing...kriiing... dua kali telepon itu berbunyi, hingga saya terbangun.
"Ya, halo" jawabku dengan nada datar.
"To, udah jam setengah enam, jadi kita shalat dulu terus makan kan?" timpal dari ujung kabel.
"Oh iya pak, saya mandi sebentar, nanti ketemu di lobi ya." saya membalas.

Untung Pak Rahman berhasil membangunkan saya, mengingat hari ini begitu padatnya jadwal dari tadi pagi. Boarding jam 6 pagi menuju Padang dan menempuh sekitar 5 jam untuk mencapai Sungai Batanghari. Padahal baru saja dua hari yang lalu kembali dari Atambua, memang semua mesti beres cepat karena perwakilan dari JETRO menginginkan semuanya selesai dalam satu minggu. Tapi perjalanan kali ini begitu saya nikmati, karena inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di Sumatera Barat. Akhirnya saya berkesempatan, makan nasi padang di padang. Hehehe....

Rencananya besok, rombongan akan kembali meninjau Sungai Batanghari sehingga kami menginap di bantaran sungai. Memang tidak besar hotel yang kami masuki, tapi cukup nyaman untuk sekedar melepaskan penat dan lelah. Selesai mandi, saya bergegas untuk menuju lobi dengan tak lupa memberi kabar pada calon istri di Jakarta. Maklumlah, empat bulan lagi kami akan menikah dan dia selalu mewanti-wanti untuk berhati-hati karena seringkali banyak kejadian yang diluar keinginan jika menjelang hari H. Amis itulah istilah yang dia pakai.

Dari kejauhan, siur-siur saya mendengar suara adzan di seberang jalan. Bergegas saya menuruni tangga dan mendapati Pak Rahman sudah siap untuk berangkat. Tidak lama, kami pun sudah mencapai masjid di dekat hotel, persis di belakang rumah makan Padang yang sudah saya incar sebelumnya. Masjid itu terlihat sangat sederhana, bahkan jika tidak ada pengeras suara, kami tak tahu kalau itu sebuah masjid. Saya ingat sekali tempat wudhu yang menggunakan guci dengan sebatang kayu sebagai penutup kerannya. Di dalam masjid, sudah bersiap tiga orang berpakaian gamis dan satu orang di antaranya menggunakan sorban dan sudah terlihat tua. Saya berasumsi beliaulah pengurus sekaligus imam masjid ini. Maghrib itu kami lewati dengan syahdu ditemani suara aliran arus Batanghari. Selesai shalat, kami pun melepaskan lapar di restoran Padang incaran tadi.

Sekitar restoran, banyak sekali pedagang menjajakan buah dan makanan asli sana, dan salah satu kios tampaknya menarik perhatian Pak Rahman yang membuat beliau begitu lama mencari dan memilih di sana setelah selesai makan. Saya tidak mencari apa-apa di sana, lebih baik beli oleh-oleh di Padang saja pikir saya. Lama di satu kios, saya tersadar bahwa waktu Isya sudah masuk. Berpamitan dulu ke Pak Rahman, saya kembali ke masjid tadi. Kali ini saya hanya bertemu dengan bapak imam masjid tadi saja, tidak ada orang lain dan saya pun berwudhu.

Menunggu waktu masuk Isya, saya berdiri mematung dekat pintu masjid dan menanti muadzin mengumandangkan adzan karena memang sebentar lagi masuk waktunya. 1 menit... 3 menit... 5 menit... 8 menit, kok belum ada yang adzan padahal saya sudah mendengar suara adzan di tempat lain, di sini belum. Sedang saya menghitung waktu, tiba-tiba saya dikagetkan oleh sapaan bapak tadi. Dengan senyum yang menenangkan hati (mungkin seperti ini senyumnya ahli surga, amiin), bapak tersebut menegur saya.
"Assalamualaikum dik, bantu bapak boleh" sapanya.
"Walaikum salam, boleh pak kalau saya bisa" jawab saya sedikit bingung.
"Kebetulan muadzinnya belum datang, dan saya akan menjadi imam, jadi mungkin bisa bantu saya untuk mengumandangkan adzan, waktunya sudah masuk." jelas bapak tadi.
"Adzan pak? Pakai pengeras suara?" kilah saya dengan semakin bingung. Maklumlah saya mungkin pernah adzan di mushala kampus atau kantor, tapi belum pernah di masjid dan menggunakan pengeras suara di tempat terpencil pulak.
"Iya dik, tinggal tekan ini supaya bisa terdengar keluar, tolong ya" bapak tadi dengan menunjukkan caranya.
"Saya coba pak" jawab saya. Coba??? Kalau gagal gimana... sekejap keringat dingin melanda. Wah, kacau kalau tiba-tiba suara hilang dan banyak orang mendengar. Tapi tak ada yang saya kenal di sini, dan ini perpanjangan suara ALLAH, kenapa mesti takut, pikiran saya sedikit menguatkan. Ok, I'll do it then... Bismillah...

Saya mengikuti petunjuk bapak tadi, dan berdoa sebentar berharap ALLAH memudahkan proses ini. Mmm, pakai nada dari mana ya, kalau langsung tinggi, nanti susah di ujung. Kalau terlalu rendah, takut tidak terdengar. Haduh, kok jadi mikir ke mana-mana. Fokus, fokus.... dan akhirnya seruan itupun keluar dari ujung tenggorokan saya. Jangan terburu-buru, hanya itu yang saya usahakan. Dan Alhamdulillah, pengalaman pertama menjadi muadzin di masjid pun terjadi begitu saja. Sangat di luar pikiran, di satu tempat terpencil tapi sangat mengesankan. Memang tidak ada yang istimewa jika dipandang dari satu sisi, tapi sangat menggetarkan hati pada saat ALLAH mengizinkan kita menjadi wakil-NYA dalam menyeru hamba-NYA untuk bersiap menyembah-NYA. Seruan itupun tersampaikan.

Hayya alash shalaaaahhhh.... Marilah kita shalat...
Hayya alal fallaaaahh... Marilah kita menuju kemenangan...


Bendungan Sungai Batanghari, Dharmasraya, Sumatera Barat, 22 April 2008

No comments: