Gara-gara diskusi selepas shalat maghrib di kantor, saya jadi teringat tentang suatu topik yang sangat melekat di memori saya. Mungkin kalau topik ini dibawakan oleh orang lain mungkin ingatan saya akan samar2. Namun saya ingat dengan baik semua yang pembicara katakan waktu itu dengan gaya lugas, rapi dan penuh semangat yang khas ala Cak Nun atau Emha Ainun Najib.
Kala itu masuk bulan Ramadhan, saya menyempatkan diri untuk mengikuti tarawih berjamaah di Masjid Baitul Ihsan, BI. Kebetulan sang penceramah adalah Cak Nun, saya sudah tahu dari awal sebetulnya namun belum pernah sekalipun mengikuti ceramah beliau, jadi sempatkan untuk datang ke sana. Beliau membuka dengan banyak hal namun intinya beliau mencoba membuat para jamaah berpikir dari sisi yang berbeda tapi menuju ke arah yang sama. Salah satu statemen yang beliau ungkapkan adalah tentang munafik dan mukmin. Beliau bertanya apakah Anda lebih mau diakui sebagai munafik atau mukmin. Forum didominasi dengan jawaban kedua, saya juga sih. Tapi ternyata beliau memilih jawaban pertama, sebagai munafik. Mengapa.... karena dengan begitu beliau akan merasa masih jauh dari ALLAH, masih jauh dari ampunan ALLAH, dan beliau harus terus mengejar itu sampai akhir hayat, dibandingkan disebut mukmin dan langsung merasa dekat dengan ALLAH, puas dengan usaha taqarrub ilallah... Mmm, oke, cara pandang yang berbeda kan...
Tapi yang membuat saya tertegun pada saat beliau membahas topik ini. Dibuka kembali dengan pertanyaan seperti biasa. Dengan menunjukkan tangannya beliau berkata "Ini apa?" kemudian langsung dijawab kembali "Tangan Emha". Kemudian kembali bertanya "Ini apa? Kaki Emha... Ini? Mata Emha... Ini? Kepala Emha... Ini semua? tubuh Emha...". Saya mulai bingung arahnya ke mana sampai akhirnya diutarakan satu statemen yang membuat jelas semuanya. Beliau berkata "Kalau ini tangan Emha, ini kaki Emha, ini kepala Emha, ini tubuh Emha, terus Emha-nya di mana?" Jeng jeng.... Beliau meneruskan "Emha ada di tangan ALLAH".
Beliau mungkin cuma membahas ini 5 menit saja, tapi itu merangsang otak saya untuk berpikir. Sebetulnya kita itu ada di mana sendiri, kita tidak tahu jawaban tepatnya apa. Kalau begitu, Ito itu ada di dalam tubuh ini yang tumbuh dari dulu hingga sekarang, namun tidak dapat keluar dan kembali lagi seenaknya. Terperangkap dong?? Hingga akhirnya nanti akan meninggalkan tubuhnya. Mmmm.... Saya dulu pernah berpikir seperti itu. Wah terperangkap di tubuh yang sempurna tapi bagi sebagian orang yang kurang bersyukur merasa tidak sempurna. Terus kalau tahu terperangkap apakah kita harus memberontak, mau melawan siapa? ALLAH kah? Sudah jelas pasti tidak bisa. Namun sekali lagi, cara berpikir kita harus diubah. Daripada memberontak karena merasa terperangkap, mending kita ikuti saja aturan main yang sudah ditetapkan oleh Dzat yang menyimpan kita ke tubuh ini.
Laksananya kita di dalam mobil yang terkunci, kalau misalkan kita merasa terperangkap dan memberontak, sia-sia aja dengan mencoba memecahkan jendela, banting pintu, klakson sekerasnya atau lain-lain. Ternyata di dalam mobil itu ada petunjuk penggunaan, bagaimana cara menjalankan mobil, mengerem, belok arah dan sebagainya sebagaimana kita memiliki Al Quran. Maka dengan petunjuk itu kita bisa belajar menjalankannya, hingga lama-lama menjadi mahir.... Bahkan kita bisa berkeliling dunia menggunakannyaa... ajib kan.
Memang terkadang kita suka mempertanyakan kenapa kita harus dilahirkan ke dunia, tapi daripada merasa terperangkap lebih baik kita bersyukur saja dengan mengikuti apa sih yang Sang Pencipta inginkan dari kita melalui petunjuk-petunjuk-NYA.
So... do you feel trapped or feel blessed... or don't care? It's all yours.....
