Thursday, May 31, 2012

Feel Trapped or Feel Blessed... or Don't Care

Gara-gara diskusi selepas shalat maghrib di kantor, saya jadi teringat tentang suatu topik yang sangat melekat di memori saya. Mungkin kalau topik ini dibawakan oleh orang lain mungkin ingatan saya akan samar2. Namun saya ingat dengan baik semua yang pembicara katakan waktu itu dengan gaya lugas, rapi dan penuh semangat yang khas ala Cak Nun atau Emha Ainun Najib.

Kala itu masuk bulan Ramadhan, saya menyempatkan diri untuk mengikuti tarawih berjamaah di Masjid Baitul Ihsan, BI. Kebetulan sang penceramah adalah Cak Nun, saya sudah tahu dari awal sebetulnya namun belum pernah sekalipun mengikuti ceramah beliau, jadi sempatkan untuk datang ke sana. Beliau membuka dengan banyak hal namun intinya beliau mencoba membuat para jamaah berpikir dari sisi yang berbeda tapi menuju ke arah yang sama. Salah satu statemen yang beliau ungkapkan adalah tentang munafik dan mukmin. Beliau bertanya apakah Anda lebih mau diakui sebagai munafik atau mukmin. Forum didominasi dengan jawaban kedua, saya juga sih. Tapi ternyata beliau memilih jawaban pertama, sebagai munafik. Mengapa.... karena dengan begitu beliau akan merasa masih jauh dari ALLAH, masih jauh dari ampunan ALLAH, dan beliau harus terus mengejar itu sampai akhir hayat, dibandingkan disebut mukmin dan langsung merasa dekat dengan ALLAH, puas dengan usaha taqarrub ilallah... Mmm, oke, cara pandang yang berbeda kan...

Tapi yang membuat saya tertegun pada saat beliau membahas topik ini. Dibuka kembali dengan pertanyaan seperti biasa. Dengan menunjukkan tangannya beliau berkata "Ini apa?" kemudian langsung dijawab kembali "Tangan Emha". Kemudian kembali bertanya "Ini apa? Kaki Emha... Ini? Mata Emha... Ini? Kepala Emha... Ini semua? tubuh Emha...". Saya mulai bingung arahnya ke mana sampai akhirnya diutarakan satu statemen yang membuat jelas semuanya. Beliau berkata "Kalau ini tangan Emha, ini kaki Emha, ini kepala Emha, ini tubuh Emha, terus Emha-nya di mana?" Jeng jeng.... Beliau meneruskan "Emha ada di tangan ALLAH".

Beliau mungkin cuma membahas ini 5 menit saja, tapi itu merangsang otak saya untuk berpikir. Sebetulnya kita itu ada di mana sendiri, kita tidak tahu jawaban tepatnya apa. Kalau begitu, Ito itu ada di dalam tubuh ini yang tumbuh dari dulu hingga sekarang, namun tidak dapat keluar dan kembali lagi seenaknya. Terperangkap dong?? Hingga akhirnya nanti akan meninggalkan tubuhnya. Mmmm.... Saya dulu pernah berpikir seperti itu. Wah terperangkap di tubuh yang sempurna tapi bagi sebagian orang yang kurang bersyukur merasa tidak sempurna. Terus kalau tahu terperangkap apakah kita harus memberontak, mau melawan siapa? ALLAH kah? Sudah jelas pasti tidak bisa. Namun sekali lagi, cara berpikir kita harus diubah. Daripada memberontak karena merasa terperangkap, mending kita ikuti saja aturan main yang sudah ditetapkan oleh Dzat yang menyimpan kita ke tubuh ini. 

Laksananya kita di dalam mobil yang terkunci, kalau misalkan kita merasa terperangkap dan memberontak, sia-sia aja dengan mencoba memecahkan jendela, banting pintu, klakson sekerasnya atau lain-lain. Ternyata di dalam mobil itu ada petunjuk penggunaan, bagaimana cara menjalankan mobil, mengerem, belok arah dan sebagainya sebagaimana kita memiliki Al Quran. Maka dengan petunjuk itu kita bisa belajar menjalankannya, hingga lama-lama menjadi mahir.... Bahkan kita bisa berkeliling dunia menggunakannyaa... ajib kan. 

Memang terkadang kita suka mempertanyakan kenapa kita harus dilahirkan ke dunia, tapi daripada merasa terperangkap lebih baik kita bersyukur saja dengan mengikuti apa sih yang Sang Pencipta inginkan dari kita melalui petunjuk-petunjuk-NYA. 

So... do you feel trapped or feel blessed... or  don't care? It's all yours.....

Saturday, May 26, 2012

Allahummaghfirlaha ya ALLAH

Banyak pasang mata memandangku seketika begitu memasuki pagar rumah. Beberapa dari mereka memandang dengan rasa iba dan sedih. “Ada apa ya bu?” tanyaku kepada salah satu tetangga rumah. Namun dia tidak menjawab. Ku bertanya kepada tamu yang lain, tapi tetap mendapatkan respon yang sama. Akhirnya kuberanikan diri masuk ke dalam rumah. Ini rumahku sendiri, tapi kok tiba-tiba ku merasa asing di sini, seperti memasuki rumah yang sudah tidak jelas lagi siapa tuan rumahnya karena banyaknya orang.

Tepat di depan pintu utama rumah, aku langsung disergap oleh salah satu Uwa-ku, beliau kakak dari ibuku. “Sabar ya to, kita mesti ikhlas” bisiknya. Darah serasa naik ke ubun-ubun, bulu kudukku merinding, seketika tenaga menghilang, namun pikiranku menuju satu orang. NINA…. NENEKKU.

Setelah melepaskan diri dari Uwa, ku langsung bergegas menuju ruang tengah, di sana terdapat tempat tidur yang tidak berkasur tergeletak yang biasanya sering ditiduri olehku. Di depannya kukenali beberapa Uwa, Om dan Tanteku sedang membaca Yasin. Biasanya ku langsung menghampiri mereka dan mencium tangan mereka, namun kali ini, ku hanya tersenyum di dalam luapan perasaan ini.

Ku berusaha mencari ibu, ke ruang makan, tapi tidak ada di sana. “To…” suara yang tidak asing memanggilku dari arah dapur. “Ma.. kenapa Nina Ma, kok Ito ga dikasih tau?” tanyaku dengan suara parau. “Maafin, semuanya berlangsung cepat, mama ga sempet ngapa2in, “ balasnya. Kupandangi wajah beliau dengan air mata yang mungkin sudah kering waktu itu, namun tetap terlihat bekasnya. “Ikut mama yuk,” sambil menggandengku. Akupun berjalan di sampingnya.

Ternyata, ibu menuntunku ke garasi rumah, di sana kulihat ayah, tante, dan beberapa keluarga sedang melingkari sesosok jenazah. Ya, itu jenazah Nina. Setiap orang memelukku dengan erat sambil terseguk seguk, kubalas dengan suara yang sama. Hingga pada saat ibu memberikanku gayung untuk memandikan jenazah. “To, siram pelan-pelan ke wajah  Nina ya, doain mudah2an jalannya dimudahkan ALLAH” kata ibu.

Bismillahirrahmanirrahim, kusiramkan ke wajah beliau yang pada saat itu bersih sekali. Sekilas ku ingat wajah beliau yang sedang tersenyum, sedang tertawa, bahkan sedang jengkel kepadaku. Tapi sekarang beliau hanya diam kaku tanpa ekspresi. Ku ingat dengan jelas pada saat ulang tahunku yang terakhir, beliau berpesan untuk terus menuntut ilmu hingga kapanpun. Wajarlah karena beliau seorang kepala sekolah sebelum pensiun. Pendidikan nomor satu menurut beliau. Tapi waktu itu aku hanya membalas sekenanya. Karena memang usiaku masih 13 tahun dan duduk di kelas 2 SMP.

Setelah selesai proses pemandian, jenazah kemudian dibungkus dan disimpan di tempat tidur tengah ruangan tadi. Aku pun menuju ke kamarku di loteng. Di dalamnya ternyata sudah dipenuhi oleh sepupu-sepupuku yang ternyata sudah berkumpul sebelumnya. Hanya satu yang terlintas dibenakku saat itu. Kok, sepertinya aku orang terakhir yang tahu bahwa Nina meninggal, padahal aku cucu pertama dan yang paling sering berinteraksi dengannya. Tapi sudahlah, bukan sesuatu yang harus dipikirkan dalam2.

Sesaknya kamar, membuatku menuju atap rumah tempatku biasa menghabiskan waktu jika sedang suntuk atau sekedar menenangkan diri. Tapi untuk pertama kali aku berteriak ke angkasa, dan mempertanyakan kepada Sang Khalik tentang peristiwa ini. Setelah tenang, ku kembali ke dalam rumah, dan mencari ibu untuk mendapatkan cerita lengkap tentang proses sakaratul maut beliau.

Ya… hari ini hari yang tidak biasa, hari di mana Nina berpulang di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Rumah sakit yang mungkin sudah kami hapal tiap sudutnya karena sering sekali menunggui Nina di sana. Beliau meninggal tepat pukul 12 siang saat adzan menyeru untuk shalat Jumat berkumandang. Hari ini, 17 tahun yang lalu.

In Memorian of Rd. Hj. Nana Permana, 17th July 1921 – 26th May 1995
Allahummagfirlaha, warhamha, waafihi, wafuanha…. Ya ALLAH.

Nina, Ito sekarang hampir menyelesaikan S2, mudah2an sesuai dengan harapan Nina dulu. :)

Harusnya Hari ini Hari Biasa


“Panas banget, males keluar rumah” pikirku melihat cuaca hari ini. Jam 10, saya harus pergi ke sekolah karena mengejar shalat Jumat di sana. Ya bukan pemandangan yang aneh kalau di jalan daerah Kopo macet dan susah sekali bergerak. Seminggu terakhir, ibu selalu berjaga di rumah sakit menunggui Nina, begitulah kami memanggil nenek yang sudah sebulan ini dirawat di sana. Makan pun terpaksa memasak telur sendiri.
Akhirnya dengan baju batik yang sudah menempel di tubuh, saya paksakan diri keluar hari itu walau panas. Jalan kaki, yak, jalan kaki sampai ke depan kompleks soalnya becak jam segitu agak jarang. Sampai depan, saya mencegat angkot yang lewat dan berharap sampai sekolah tepat waktu. Jarak sekolahku memang agak jauh, dari Kopo ke Dewi Sartika atau akrab dengan nama Kebon Kelapa lumayan jauh, satu jam biasanya. Yak, hari ini hari biasa saja, tidak ada yang istimewa.

-------

To, maneh geus ningali pengumuman kamari (kamu sudah liat pengumuman kemarin)?” tiba-tiba sobat ku Ateng memecah lamunan. Pasti pada heran, kok masih ada yang dikasih nama Ateng hari gini. Maklumlah ini panggilan kesayangan dari teman-teman di sekolah.
 “Can euy, ke we lah (belum neh, nanti aja)” timpalku selewat.
Maneh ka lima nyaho (kamu tuh urutan kelima, tau)” balas Ateng sambil menunjuk ke papan pengumuman yang berdiri dekat mushala belakang sekolah. Tak lepas dari tangannya satu tahu dan satu cabai rawit, memang waktunya istirahat sekolah.
Wah, lumayan euy asup unggulan (lumayan deh masuk unggulan),” dengan tersenyum saya bereaksi.
Itu hasil tryout kemarin, sedikit menentukan kelas mana yang akan kita masuki nanti pada saat kenaikan kelas 3. Lumayanlah, bisa masuk ke lima besar, dan Ateng tentu dia selalu nomor satu di sekolah dan dipastikan kita akan sekelas kembali dan sedikit lagi menuju SMU 3 yang menjadi favorit kita. Sedikit tidak biasa, tapi saya masih anggap ini hari yang biasa.

-------

Saya berdiri sekitar 10 menit di depan sekolah untuk menunggu angkot yang biasa mengantarku pulang. Sebetulnya biasanya tidak selama itu, tapi karena saya menunggu Ateng dulu. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih sama dengan pada saat berangkat, karena jika masuk pukul 5 sore, jalanan sudah mulai ramai lagi dan perjalanan akan lebih lama. Selama di dalam mobil, saya berdiskusi dengan Ateng diselingi juga dengan sedikit memejamkan mata hanya untuk menghabiskan waktu di jalan. Sampai depan kompleks, saya berjalan ke rumah kembali. Tidak ada yang aneh, semua biasa saja. Hari ini hari biasa.

-------

Sambil mengunyah kacang polong kesukaanku yang dibeli dari warung depan kompleks, saya berjalan hingga belokan terakhir menuju rumah. Setelah terlihat rumah saya dari kejauhan, ada yang aneh di sana. Ada yang tidak biasa. Ada sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Ada tenda hijau yang lazimnya untuk syukuran. Aneh, kok ibu tidak cerita sebelumnya kalau akan ada acara hari ini. Perlahan mendekat, dan akhirnya saya melihat suatu benda yang membuat saya berlari kencang., sekencang-kencangnya bahkan melupakan kacang polong yang berhamburan dari bungkusnya di tangan saya. BENDERA KUNING! Itu yang saya lihat… “TIDAK!!… HARI INI SEHARUSNYA JADI HARI YANG BIASA SAJA!…TIDAK BOLEH! Hari ini hari biasa aja… tidak seharusnya ada yang tidak biasa… tapi.. tapi… kok…”

-------

Hari itu tepat 17 tahun yang lalu, tidak menjadi hari biasa lagi….

Wednesday, May 23, 2012

Fisimarketing: Fisika dalam Marketing

Dua hari ini, saya mengikuti training di kantor tentang Marketing yang disampaikan langsung oleh Professor Govindrajan dari India. Jika melihat cara beliau berbicara dan menyampaikan topik, semua orang langsung tahu bahwa ini orang sangat ahli atau seorang marketing expert. Cara menyajikannya pun sangat unik dengan dua pertanyaan favorit beliau yaitu "why" dan "so what", memacu kita untuk terus berpikir sepanjang training.

Dengan bercerita tentang studi kasus yang telah terjadi, kami (para trainee) menjadi lebih paham bagaiman teori-teori marketing ini diterapkan. Sebetulnya saya pernah mendapatkan topik seperti ini di Marketing Management pada saat kuliah kemarin, tapi lebih ke arah teori dasar, tidak langsung dalam aplikasi.

Namun yang paling menarik adalah pada saat beliau menceritakan bahwa "we should think out of the box", salah satunya dengan menerapkan rumus fisika di dalam marketing. Mmmm, interesting... Dan beliau bercerita tentang momentum.

Momentum atau biasa dilambangkan dengan "P" adalah ukuran pergerakan suatu benda atau bisa juga dikatakan sebagai suatu ukuran kesukaran untuk mendiamkan benda bergerak. Contohnya pada bola biliard dan bola pingpong. Jika kedua bola ini bergerak dengan kecepatan yang sama, maka gaya atau kekuatan yang dibutuhkan untuk menghentikan bola billiard akan lebih besar dibandingkan bola pingpong, karena massanya yang lebih tinggi. Oleh karena itu, momentum (P) selalu diwujudkan dengan perkalian antara massa (m) dengan kecepatan (v). Dan momentum ini layaknya energi, bersifat kekal, jika kita melihat bola billiard, pada saat bola 1 menyentuh bola 2, kecepatan bola 1 berkurang namun kecepatan bola 2 bertambah dan jika dijumlah akan sama pada saat pertama kali bola 1 bergerak dst.

Serunya adalah pada saat Prof. Govindrajan berkata momentum itu bisa diaplikasikan dalam marketing dan dia akan berperan seperti market share. Mmm... tambah bingung. Mungkin bagi sebagian orang, tahu hal ini sejak dulu, tapi ini benar2 baru untuk saya. Gimana caranya. Beliau menjelaskan anggap massa (m) sebagai jumlah konsumen atau users dan kecepatan (v) digantikan dengan frekuensi pembelian, maka kita akan mendapatkan market share. Jadi market share itu adalah perkalian dari banyaknya konsumen atau users dengan frekuensi pembelian. Frekuensi pembelian di sini adalah rata-rata rentang waktu antara dua pembelian untuk merek yang sama. Hahaha, make sense kok. Ajiibb...

Sebetulnya saya juga pernah mengikuti perkuliahan Entrepreneurship yang menggunakan rumus fisika diaplikasikan dalam marketing. Waktu itu yang dibahas adalah gaya tarik menarik dihubungkan dengan pengaturan letak toko atau franchise. Misalkan kita ambil minimarket yang mulai marak sekarang ini, Alfamart deh. Untuk satu Alfamart di satu lokasi, baru diperbolehkan membuka Alfamart baru dengan jarak radius sekitar 1 km, jika kurang akan terjadi gaya tarik menarik yang tidak seimbang antara keduanya. Sebutlah rumus gaya tarik menarik adalah:

F=  (k.q1.q2) / r^2 ,
dimana F (gaya tarik menarik), k (konstanta), q1 (muatan atau massa benda 1), q2 (muatan atau benda 2), dan r (jarak antara q1 dan q2).

Anggaplah q1 sebagai kekuatan keinginan konsumen untuk membeli barang dan q2 adalah kekuatan Alfamart untuk menarik konsumen. Dan menetapkan konstanta (k) khusus untuk minimarket kategori. Jika kita bandingkan F1 untuk Alfamart yang pertama dan F2 untuk Alfamart kedua, kita dapat melihat manakah yang lebih kuat menarik konsumen, sehingga bisa diatur jarak agar F1 dan F2 tidak berbeda secara signifikan sehingga keduanya untung. Perhitungan lain dapat digunakan pula untuk kompetitor. Misalnya di daerah kita terdapat Alfamart sejauh x km, dan Indomaret sejauh y km. Kita dapat menghitung seberapa kuat dan bandingkan antara kedua minimarket ini. Maka ke sanalah biasanya kita akan pergi. Sebetulnya ini di luar kesadaran konsumen sendiri, tapi tetap bisa dihitung. :)

Mudah2an tidak terlalu membosankan penjabarannya.  Mungkin ada yang mau share tentang rumus fisika lainnya yang bisa diaplikasikan di marketing, please do let me know. Hehehe....

Sunday, May 20, 2012

Incredible Chelsea!

Only one word... Incredible!

Itulah kesan yang saya dapat ketika melihat pertandingan yang baru saja selesai Final UEFA Champions League (UCL) antara Bayern Munchen dengan Chelsea. UCL kali ini sangat menarik, kalau Barcelona, Madrid atau bahkan Munchen yang juara, tidaklah sesuatu yang mengejutkan, tapi Chelsea berhasil mendobrak dominasi para juara ini dan menjadi pemenang untuk pertama kalinya.

Sebelum pertandingan, kebanyakan orang akan menduga Bayern-lah yang akan tampil sebagai pemenang. Walaupun di liga mereka terseok-seok, namun penampilan di UCL sangatlah mengesankan. Apalagi untuk pertama kalinya di Final UCL, di mana tim dari tempat berlangsungnya final menjadi finalis. FYI, tempat pertandingan final UCL ditentukan di awal. Untuk 2011/2012, UEFA sudah menentukan Allianz Arena (kandang Bayern) sebagai tempat pertandingan final, eh Bayern-nya malah masuk final juga. Wajar banyak orang memilih Bayern akan menjadi juara. Sedangkan Chelsea, di English Premier League (EPL) saja mereka peringkat ke-enam, masuk ke final pun sedikit kesulitan.

Dimulai dengan permainan hati-hati dan cenderung lambat (tipikal pertandingan final), semua penonton akan sekali lagi mengkonfirmasi prediksi mereka bahwa Bayern akan juara setelah Mueller mencetak gol di menit ke-82. Chelsea underdog...., namun mereka dapat memberikan perlawanan melalui gol Drogba 2 menit sebelum babak kedua berakhir. Akhirnya perpanjangan waktu pun dilakukan.

Beberapa saat, penonton kembali berpikir Bayern akan juara setelah mereka mendapatkan tendangan penalti hasil pelanggaran Drogba terhadap Ribery. Tapi lagi-lagi dipatahkan oleh Chelsea melalui kiper andalan mereka, Petr Cech. Dan dilakukanlah adu penalti karena setelah 120 menit, tak ada pemenang.

Lagi-lagi, Bayern di atas angin ketika hingga penendang ketiga, mereka berhasil memanfaatkan tendangan penalti sedangkan Chelsea tertinggal 1 gol. Namun juga, lagi-lagi (lama2 jadi gila-gila, kekeke) Chelsea berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak gol dari dua penendang terakhir dan Cech berhasil menggagalkan satu penendang Bayern dan satu lagi terkena tiang. Chelsea-lah juaranya.

Kalau diambil hikmahnya, saya berpikir, inilah hidup. Banyak orang mengunderestimate Chelsea melihat dari keadaan mereka yang tidak stabil. Perpindahan pelatih, perpecahan antar pemain, masalah isu rasial, dan sebagainya. Apalagi mereka melawan tim-tim yang sudah dianggap lebih mapan, seperti Benfica, Napoli, bahkan Barcelona. Pada saat melawan Napoli, pertandingan pertama mereka kalah 1-3, namun bangkit dengan membungkam lawan yang sama dengan 4-1. Menghadapi Benfica, mereka hampir tersingkir pada pertandingan kedua tertinggal 0-1 namun berhasil dibalikkan dengan 2-1. Di semifinal lebih gila lagi, kalah ball possession 70:30 dari Barcelona namun mereka berhasil lagi lolos dengan aggregate 3-2. Puncaknya mereka mengalahkan Bayern yang notabene tuan rumah. Tidak banyak yang mengira, sekali lagi, tidak banyak yang mengira bahwa mereka akan juara. Bahkan fans Chelsea sekali pun, cuma harapan saja. Tapi merekalah juaranya. Bukan Barcelona dengan taktik tiki taka yang memukau dunia, Bayern dengan sepakbola kolektifnya yg merupakan miniatur timnas Jerman, atau Napoli sang pendobrak baru dengan permainan efektif dan tiga trisulanya. Ditambah Madrid dan Manchester City yang bergelimang harta. Chelsea lah yang menang dengan kerja keras dan pantang semangatnya.

Cara berpikir orang lain memang tidak bisa diubah apalagi dikontrol. Biarlah mereka meng-underestimate kita. Yang menjadi hal yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Chelsea memberikan pelajaran untuk saya, bahwa jangan putus asa, terus semangat dan pantang menyerah, Biarlah mereka yang merevisi kembali opininya bukan karena paksaan tapi karena hasil yang kita bawa. Dan jangan pula membenci mereka, karena dengan adanya mereka, motivasi kita bertambah, coba kalau adem ayem aja, mungkin tidak ada perubahan yang berarti dalam hidup. Semangat!!!

Again, congratulations to our new champs, Chelsea. Mudah2an terus dapat menularkan filosofi2 baik di dalam sepakbola, dan doain juga Arsenal bisa seperti kalian... tetep ngarep :p

Dari Allianz Arena, Munchen.... Ito melaporkan....


Saturday, May 12, 2012

Khutbah Bapak Mengembalikanku

Kalau berbicara hari ini, seharusnya penuh oleh kegiatan persiapan pelaksanaan study. Memang iya, dari pagi jam 10 hingga 6 malam, saya menghabiskan waktu di dalam ruangan berisikan 30 orang untuk memberikan keterangan dan pemahaman konsep pelaksanaan minggu depan. Hanya sekitar 45 menit saja, saya keluar dari ruangan tersebut untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah di masjid sekitar Bapelkes, Surabaya. Namun, di sanalah saya mendapatkan pencerahan hari ini.

Tersebutlah masjid di dalam sekolah Muhammadiyaah daerah Wonokromo. Saya masuk tepat pada saat adzan dzuhur berkumandang. Sebelumnya saya mencari penitipan sepatu untuk menyimpan sepatu kets satu2nya ini. Tapi tidak berhasil, akhirnya saya terpaksa menyimpannya di sekitar pintu masuk. Wah, bakal susah khusyu nih, dalam hati saya soalnya pikirannya bakal terbagi antara menghadap ALLAH dan sepatu takut hilang. Ciloko... kalau kata orang Jawa.

Masuk ke dalam ternyata sudah dipenuhi oleh murid2 yang bersekolah di sana, dan khatib pun sudah naik mimbar, setelah mencari celah yang kosong saya pun shalat sunat dua rakaat dan duduk manis mencoba mendengarkan khatib berceramah sambil sekali-sekali melirik ke arah pintu, cuma memastikan sepatu saya masih di sana.

Melihat prolog yang disampaikan, semua orang langsung tahu bahwa sang khatib adalah guru di sekolah ini. Beliau tidak membahasakan orang-orang yang sudah datang sebagai jamaah, tetapi memanggil kami dengan "anak-anakku". Wah, baru kali ini saya dianggap murid di sekolah terkenal hasil kerja keras KH. Ahmad Dahlan ini.

Kalimat per kalimat terucap, beliau sampaikan dengan penuh perasaan... ya beliau berbicara tentang pendidikan di Indonesia. Wajar, wong beliau ini guru, jadi sangat merasakan bagaimana getirnya pendidikan kita. "Guru itu contoh, kalau guru melakukan hal kebaikan, tanpa diminta, murid pun akan mengikuti. Ga perlu di marahi atau di suruh dulu." Mmmm, ya ya ya.

Masuk ke topik berikutnya tentang kepemimpinan, beliau membuka dengan pernyataan dari Prof. Dr. Syafii Ma'arif, mantan ketua Muhammadiyah. Dalam perkataannya, Pak Syafii menerangkan bahwa Indonesia itu kaya akan budaya dan alam, jika dipimpin oleh pemimpin yang memiliki visi yang baik, amanah, jujur dan bertanggung jawab, insya ALLAH, Indonesia akan ada satu hari sebelum kiamat. Wush... kita bisa melihat begitu dalamnya pernyataan beliau.

Tapi bukan hanya itu. Yang saya terngiang hingga sekarang adalah pernyataan sang khatib tentang surat Al-Qashas ayat 77 pada saat ALLAH mengingatkan Qarun yang bergelimang harta.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS 28:77)

Penekanan ayat ini ada pada carilah kebahagiaan untuk  negeri akhirat dan janganlah melupakan dunia. Ini bukan pertama kali saya membaca dan berusaha memahami ayat ini. Namun khatib dapat menjabarkan lebih detil dan saya pun merasa pemahaman saya masih jauh dan ngawur. Saya berpikir ALLAH menurunkan ayat ini supaya kita seimbang antara akhirat dan dunia, tapi jika dilihat per kata, makna yang didapat berbeda. Sang Khatib menerangkan bahwa kebahagiaan di akhirat itu harus dicari, harus diraih, harus dicapai... tapi jangan lupakan dunia. Terlihat jelas perbedaannya dari cara penyampaian ayat ini. Akhirat dicari, dunia jangan dilupakan.... Jadi akhirat itu levelnya jauh di atas dunia. Namun manusia kadang terbalik, dunianya yang dicari, akhiratnya yang tidak dilupakan... Yak, ceramah ini kena banget... Saya yang terlalu memprioritaskan dunia padahal harusnya kebalikannya. Ya ALLAH, ampuni hamba.

Wah, lupaa... bener2 lupaa tentang sepatu tadi. Ceramah ini jauh lebih berharga dari sepatu saya. Saya lihat sekali lagi bapak khatib tadi dan berkata dalam hati "Syukron Pak, khutbah bapak mengembalikanku".

PS: Sepatu saya tidak hilang, untunglah. Saya jadi malu sudah su'udzhan sama anak murid di Muhammadiyah. Ternyata mereka santri2 yang baik dan jujur. Maju terus Muhammadiyah. Maaf ya atas pikiran jeleknya.