Saturday, May 26, 2012

Harusnya Hari ini Hari Biasa


“Panas banget, males keluar rumah” pikirku melihat cuaca hari ini. Jam 10, saya harus pergi ke sekolah karena mengejar shalat Jumat di sana. Ya bukan pemandangan yang aneh kalau di jalan daerah Kopo macet dan susah sekali bergerak. Seminggu terakhir, ibu selalu berjaga di rumah sakit menunggui Nina, begitulah kami memanggil nenek yang sudah sebulan ini dirawat di sana. Makan pun terpaksa memasak telur sendiri.
Akhirnya dengan baju batik yang sudah menempel di tubuh, saya paksakan diri keluar hari itu walau panas. Jalan kaki, yak, jalan kaki sampai ke depan kompleks soalnya becak jam segitu agak jarang. Sampai depan, saya mencegat angkot yang lewat dan berharap sampai sekolah tepat waktu. Jarak sekolahku memang agak jauh, dari Kopo ke Dewi Sartika atau akrab dengan nama Kebon Kelapa lumayan jauh, satu jam biasanya. Yak, hari ini hari biasa saja, tidak ada yang istimewa.

-------

To, maneh geus ningali pengumuman kamari (kamu sudah liat pengumuman kemarin)?” tiba-tiba sobat ku Ateng memecah lamunan. Pasti pada heran, kok masih ada yang dikasih nama Ateng hari gini. Maklumlah ini panggilan kesayangan dari teman-teman di sekolah.
 “Can euy, ke we lah (belum neh, nanti aja)” timpalku selewat.
Maneh ka lima nyaho (kamu tuh urutan kelima, tau)” balas Ateng sambil menunjuk ke papan pengumuman yang berdiri dekat mushala belakang sekolah. Tak lepas dari tangannya satu tahu dan satu cabai rawit, memang waktunya istirahat sekolah.
Wah, lumayan euy asup unggulan (lumayan deh masuk unggulan),” dengan tersenyum saya bereaksi.
Itu hasil tryout kemarin, sedikit menentukan kelas mana yang akan kita masuki nanti pada saat kenaikan kelas 3. Lumayanlah, bisa masuk ke lima besar, dan Ateng tentu dia selalu nomor satu di sekolah dan dipastikan kita akan sekelas kembali dan sedikit lagi menuju SMU 3 yang menjadi favorit kita. Sedikit tidak biasa, tapi saya masih anggap ini hari yang biasa.

-------

Saya berdiri sekitar 10 menit di depan sekolah untuk menunggu angkot yang biasa mengantarku pulang. Sebetulnya biasanya tidak selama itu, tapi karena saya menunggu Ateng dulu. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih sama dengan pada saat berangkat, karena jika masuk pukul 5 sore, jalanan sudah mulai ramai lagi dan perjalanan akan lebih lama. Selama di dalam mobil, saya berdiskusi dengan Ateng diselingi juga dengan sedikit memejamkan mata hanya untuk menghabiskan waktu di jalan. Sampai depan kompleks, saya berjalan ke rumah kembali. Tidak ada yang aneh, semua biasa saja. Hari ini hari biasa.

-------

Sambil mengunyah kacang polong kesukaanku yang dibeli dari warung depan kompleks, saya berjalan hingga belokan terakhir menuju rumah. Setelah terlihat rumah saya dari kejauhan, ada yang aneh di sana. Ada yang tidak biasa. Ada sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Ada tenda hijau yang lazimnya untuk syukuran. Aneh, kok ibu tidak cerita sebelumnya kalau akan ada acara hari ini. Perlahan mendekat, dan akhirnya saya melihat suatu benda yang membuat saya berlari kencang., sekencang-kencangnya bahkan melupakan kacang polong yang berhamburan dari bungkusnya di tangan saya. BENDERA KUNING! Itu yang saya lihat… “TIDAK!!… HARI INI SEHARUSNYA JADI HARI YANG BIASA SAJA!…TIDAK BOLEH! Hari ini hari biasa aja… tidak seharusnya ada yang tidak biasa… tapi.. tapi… kok…”

-------

Hari itu tepat 17 tahun yang lalu, tidak menjadi hari biasa lagi….

No comments: