“Panas banget, males keluar rumah”
pikirku melihat cuaca hari ini. Jam 10, saya harus pergi ke sekolah karena
mengejar shalat Jumat di sana. Ya bukan pemandangan yang aneh kalau di jalan
daerah Kopo macet dan susah sekali bergerak. Seminggu terakhir, ibu selalu
berjaga di rumah sakit menunggui Nina, begitulah kami memanggil nenek yang sudah
sebulan ini dirawat di sana. Makan pun terpaksa memasak telur sendiri.
Akhirnya dengan baju batik yang sudah
menempel di tubuh, saya paksakan diri keluar hari itu walau panas. Jalan kaki,
yak, jalan kaki sampai ke depan kompleks soalnya becak jam segitu agak jarang.
Sampai depan, saya mencegat angkot yang lewat dan berharap sampai sekolah tepat
waktu. Jarak sekolahku memang agak jauh, dari Kopo ke Dewi Sartika atau akrab
dengan nama Kebon Kelapa lumayan jauh, satu jam biasanya. Yak, hari ini hari
biasa saja, tidak ada yang istimewa.
-------
“To,
maneh geus ningali pengumuman kamari (kamu sudah liat pengumuman kemarin)?”
tiba-tiba sobat ku Ateng memecah lamunan. Pasti pada heran, kok masih ada yang
dikasih nama Ateng hari gini. Maklumlah ini panggilan kesayangan dari
teman-teman di sekolah.
“Can
euy, ke we lah (belum neh, nanti aja)” timpalku selewat.
“Maneh
ka lima nyaho (kamu tuh urutan kelima, tau)” balas Ateng sambil menunjuk ke
papan pengumuman yang berdiri dekat mushala belakang sekolah. Tak lepas dari
tangannya satu tahu dan satu cabai rawit, memang waktunya istirahat sekolah.
“Wah,
lumayan euy asup unggulan (lumayan deh masuk unggulan),” dengan tersenyum
saya bereaksi.
Itu hasil tryout kemarin, sedikit
menentukan kelas mana yang akan kita masuki nanti pada saat kenaikan kelas 3.
Lumayanlah, bisa masuk ke lima besar, dan Ateng tentu dia selalu nomor satu di
sekolah dan dipastikan kita akan sekelas kembali dan sedikit lagi menuju SMU 3
yang menjadi favorit kita. Sedikit tidak biasa, tapi saya masih anggap ini hari
yang biasa.
-------
Saya berdiri sekitar 10 menit di depan
sekolah untuk menunggu angkot yang biasa mengantarku pulang. Sebetulnya
biasanya tidak selama itu, tapi karena saya menunggu Ateng dulu. Perjalanan
ditempuh dalam waktu kurang lebih sama dengan pada saat berangkat, karena jika masuk pukul 5 sore, jalanan sudah
mulai ramai lagi dan perjalanan akan lebih lama. Selama di dalam mobil, saya
berdiskusi dengan Ateng diselingi juga dengan sedikit memejamkan mata hanya
untuk menghabiskan waktu di jalan. Sampai depan kompleks, saya berjalan ke
rumah kembali. Tidak ada yang aneh, semua biasa saja. Hari ini hari biasa.
-------
Sambil mengunyah kacang polong
kesukaanku yang dibeli dari warung depan kompleks, saya berjalan hingga belokan
terakhir menuju rumah. Setelah terlihat rumah saya dari kejauhan, ada yang aneh
di sana. Ada yang tidak biasa. Ada sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana.
Ada tenda hijau yang lazimnya untuk syukuran. Aneh, kok ibu tidak cerita
sebelumnya kalau akan ada acara hari ini. Perlahan mendekat, dan akhirnya saya
melihat suatu benda yang membuat saya berlari kencang., sekencang-kencangnya
bahkan melupakan kacang polong yang berhamburan dari bungkusnya di tangan saya.
BENDERA KUNING! Itu yang saya lihat… “TIDAK!!… HARI INI SEHARUSNYA JADI HARI
YANG BIASA SAJA!…TIDAK BOLEH! Hari ini hari biasa aja… tidak seharusnya ada
yang tidak biasa… tapi.. tapi… kok…”
-------
Hari itu tepat 17 tahun yang lalu,
tidak menjadi hari biasa lagi….
No comments:
Post a Comment