Banyak pasang mata memandangku
seketika begitu memasuki pagar rumah. Beberapa dari mereka memandang dengan
rasa iba dan sedih. “Ada apa ya bu?” tanyaku kepada salah satu tetangga rumah.
Namun dia tidak menjawab. Ku bertanya kepada tamu yang lain, tapi tetap
mendapatkan respon yang sama. Akhirnya kuberanikan diri masuk ke dalam rumah.
Ini rumahku sendiri, tapi kok tiba-tiba ku merasa asing di sini, seperti
memasuki rumah yang sudah tidak jelas lagi siapa tuan rumahnya karena banyaknya
orang.
Tepat di depan pintu utama rumah,
aku langsung disergap oleh salah satu Uwa-ku, beliau kakak dari ibuku. “Sabar
ya to, kita mesti ikhlas” bisiknya. Darah serasa naik ke ubun-ubun, bulu
kudukku merinding, seketika tenaga menghilang, namun pikiranku menuju satu
orang. NINA…. NENEKKU.
Setelah melepaskan diri dari Uwa,
ku langsung bergegas menuju ruang tengah, di sana terdapat tempat tidur yang
tidak berkasur tergeletak yang biasanya sering ditiduri olehku. Di depannya
kukenali beberapa Uwa, Om dan Tanteku sedang membaca Yasin. Biasanya ku
langsung menghampiri mereka dan mencium tangan mereka, namun kali ini, ku hanya
tersenyum di dalam luapan perasaan ini.
Ku berusaha mencari ibu, ke ruang
makan, tapi tidak ada di sana. “To…” suara yang tidak asing memanggilku dari
arah dapur. “Ma.. kenapa Nina Ma, kok Ito ga dikasih tau?” tanyaku dengan suara
parau. “Maafin, semuanya berlangsung cepat, mama ga sempet ngapa2in, “ balasnya.
Kupandangi wajah beliau dengan air mata yang mungkin sudah kering waktu itu,
namun tetap terlihat bekasnya. “Ikut mama yuk,” sambil menggandengku. Akupun
berjalan di sampingnya.
Ternyata, ibu menuntunku ke
garasi rumah, di sana kulihat ayah, tante, dan beberapa keluarga sedang
melingkari sesosok jenazah. Ya, itu jenazah Nina. Setiap orang memelukku dengan
erat sambil terseguk seguk, kubalas dengan suara yang sama. Hingga pada saat
ibu memberikanku gayung untuk memandikan jenazah. “To, siram pelan-pelan ke
wajah Nina ya, doain mudah2an jalannya
dimudahkan ALLAH” kata ibu.
Bismillahirrahmanirrahim,
kusiramkan ke wajah beliau yang pada saat itu bersih sekali. Sekilas ku ingat
wajah beliau yang sedang tersenyum, sedang tertawa, bahkan sedang jengkel
kepadaku. Tapi sekarang beliau hanya diam kaku tanpa ekspresi. Ku ingat dengan
jelas pada saat ulang tahunku yang terakhir, beliau berpesan untuk terus
menuntut ilmu hingga kapanpun. Wajarlah karena beliau seorang kepala sekolah
sebelum pensiun. Pendidikan nomor satu menurut beliau. Tapi waktu itu aku hanya
membalas sekenanya. Karena memang usiaku masih 13 tahun dan duduk di kelas 2
SMP.
Setelah selesai proses pemandian,
jenazah kemudian dibungkus dan disimpan di tempat tidur tengah ruangan tadi.
Aku pun menuju ke kamarku di loteng. Di dalamnya ternyata sudah dipenuhi oleh
sepupu-sepupuku yang ternyata sudah berkumpul sebelumnya. Hanya satu yang
terlintas dibenakku saat itu. Kok, sepertinya aku orang terakhir yang tahu
bahwa Nina meninggal, padahal aku cucu pertama dan yang paling sering
berinteraksi dengannya. Tapi sudahlah, bukan sesuatu yang harus dipikirkan
dalam2.
Sesaknya kamar, membuatku menuju
atap rumah tempatku biasa menghabiskan waktu jika sedang suntuk atau sekedar
menenangkan diri. Tapi untuk pertama kali aku berteriak ke angkasa, dan
mempertanyakan kepada Sang Khalik tentang peristiwa ini. Setelah tenang, ku kembali ke dalam rumah, dan mencari ibu untuk
mendapatkan cerita lengkap tentang proses sakaratul maut beliau.
Ya… hari ini hari yang tidak
biasa, hari di mana Nina berpulang di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Rumah sakit
yang mungkin sudah kami hapal tiap sudutnya karena sering sekali menunggui Nina
di sana. Beliau meninggal tepat pukul 12 siang saat adzan menyeru untuk shalat
Jumat berkumandang. Hari ini, 17 tahun yang lalu.
In Memorian of Rd. Hj. Nana Permana, 17th
July 1921 – 26th May 1995
Allahummagfirlaha, warhamha, waafihi,
wafuanha…. Ya ALLAH.
Nina, Ito sekarang hampir menyelesaikan S2,
mudah2an sesuai dengan harapan Nina dulu. :)
2 comments:
sedih ak baca blog kang ito..
saat itu nuniek msh sd kali ya? jd hanya sebagian2 yg teringat...tp memang ak ingat when u cry @ up stair, n d'firs time I saw you cry like that, it's make me sad too...
smg Nina sll dlm lindungan Allah SWT, dlapangkan & diterangi kuburnya, dihapuskan dosanya...amiin..
Mungkin karena mendadak kali ya niek waktu itu.
Amiin...
Post a Comment