Saturday, May 12, 2012

Khutbah Bapak Mengembalikanku

Kalau berbicara hari ini, seharusnya penuh oleh kegiatan persiapan pelaksanaan study. Memang iya, dari pagi jam 10 hingga 6 malam, saya menghabiskan waktu di dalam ruangan berisikan 30 orang untuk memberikan keterangan dan pemahaman konsep pelaksanaan minggu depan. Hanya sekitar 45 menit saja, saya keluar dari ruangan tersebut untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah di masjid sekitar Bapelkes, Surabaya. Namun, di sanalah saya mendapatkan pencerahan hari ini.

Tersebutlah masjid di dalam sekolah Muhammadiyaah daerah Wonokromo. Saya masuk tepat pada saat adzan dzuhur berkumandang. Sebelumnya saya mencari penitipan sepatu untuk menyimpan sepatu kets satu2nya ini. Tapi tidak berhasil, akhirnya saya terpaksa menyimpannya di sekitar pintu masuk. Wah, bakal susah khusyu nih, dalam hati saya soalnya pikirannya bakal terbagi antara menghadap ALLAH dan sepatu takut hilang. Ciloko... kalau kata orang Jawa.

Masuk ke dalam ternyata sudah dipenuhi oleh murid2 yang bersekolah di sana, dan khatib pun sudah naik mimbar, setelah mencari celah yang kosong saya pun shalat sunat dua rakaat dan duduk manis mencoba mendengarkan khatib berceramah sambil sekali-sekali melirik ke arah pintu, cuma memastikan sepatu saya masih di sana.

Melihat prolog yang disampaikan, semua orang langsung tahu bahwa sang khatib adalah guru di sekolah ini. Beliau tidak membahasakan orang-orang yang sudah datang sebagai jamaah, tetapi memanggil kami dengan "anak-anakku". Wah, baru kali ini saya dianggap murid di sekolah terkenal hasil kerja keras KH. Ahmad Dahlan ini.

Kalimat per kalimat terucap, beliau sampaikan dengan penuh perasaan... ya beliau berbicara tentang pendidikan di Indonesia. Wajar, wong beliau ini guru, jadi sangat merasakan bagaimana getirnya pendidikan kita. "Guru itu contoh, kalau guru melakukan hal kebaikan, tanpa diminta, murid pun akan mengikuti. Ga perlu di marahi atau di suruh dulu." Mmmm, ya ya ya.

Masuk ke topik berikutnya tentang kepemimpinan, beliau membuka dengan pernyataan dari Prof. Dr. Syafii Ma'arif, mantan ketua Muhammadiyah. Dalam perkataannya, Pak Syafii menerangkan bahwa Indonesia itu kaya akan budaya dan alam, jika dipimpin oleh pemimpin yang memiliki visi yang baik, amanah, jujur dan bertanggung jawab, insya ALLAH, Indonesia akan ada satu hari sebelum kiamat. Wush... kita bisa melihat begitu dalamnya pernyataan beliau.

Tapi bukan hanya itu. Yang saya terngiang hingga sekarang adalah pernyataan sang khatib tentang surat Al-Qashas ayat 77 pada saat ALLAH mengingatkan Qarun yang bergelimang harta.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS 28:77)

Penekanan ayat ini ada pada carilah kebahagiaan untuk  negeri akhirat dan janganlah melupakan dunia. Ini bukan pertama kali saya membaca dan berusaha memahami ayat ini. Namun khatib dapat menjabarkan lebih detil dan saya pun merasa pemahaman saya masih jauh dan ngawur. Saya berpikir ALLAH menurunkan ayat ini supaya kita seimbang antara akhirat dan dunia, tapi jika dilihat per kata, makna yang didapat berbeda. Sang Khatib menerangkan bahwa kebahagiaan di akhirat itu harus dicari, harus diraih, harus dicapai... tapi jangan lupakan dunia. Terlihat jelas perbedaannya dari cara penyampaian ayat ini. Akhirat dicari, dunia jangan dilupakan.... Jadi akhirat itu levelnya jauh di atas dunia. Namun manusia kadang terbalik, dunianya yang dicari, akhiratnya yang tidak dilupakan... Yak, ceramah ini kena banget... Saya yang terlalu memprioritaskan dunia padahal harusnya kebalikannya. Ya ALLAH, ampuni hamba.

Wah, lupaa... bener2 lupaa tentang sepatu tadi. Ceramah ini jauh lebih berharga dari sepatu saya. Saya lihat sekali lagi bapak khatib tadi dan berkata dalam hati "Syukron Pak, khutbah bapak mengembalikanku".

PS: Sepatu saya tidak hilang, untunglah. Saya jadi malu sudah su'udzhan sama anak murid di Muhammadiyah. Ternyata mereka santri2 yang baik dan jujur. Maju terus Muhammadiyah. Maaf ya atas pikiran jeleknya.

No comments: