Never get bored... perasaan yang selalu saya rasakan untuk sepakbola, khususnya sajian Euro 2012 ini. Walaupun officially,
Euro ini tidak memberikan hadiah manis untuk saya dengan tersingkirnya
Belanda secara tragis, tapi tetap memberikan cerita-cerita menarik.
Setelah melewati 30 pertandingan dan 69 gol yang tercipta, akhirnya
terpilih dua timnas terbaik selama turnamen, Spanyol dan Italia.
Bagi
sebagian besar penikmat sepakbola, masuknya Spanyol ke final tampaknya
tidak menjadi sesuatu kejutan jika melihat track record mereka di 5
tahun terakhir dengan memukau dunia melalui tiki taka nya. Menjuarai
Euro 2008 dan World Cup 2010 secara berturutan, Spanyol kini siap untuk
mengukir sejarah baru dengan menjadi satu-satunya tim di dunia yang
dapat menjuarai 3 turnamen besar secara berturutan di mana Jerman (waktu
itu masih Jerman Barat) dan Perancis tidak berhasil melakukannya. Hanya
tinggal satu rintangan lagi untuk mereka untuk mencatatkan tinta emas
di dalam percaturan dunia sepakbola, cuma Italia... cuma Italia. Tapi
tunggu dulu, Italia ini memang ajaib, selalu bermain baik pada saat
setiap penonton tidak memperkirakannya. Begitu pula sebaliknya, kadang
bermain kurang maksimal pada pertandingan yang sebetulnya bisa mereka
menangkan dengan mudah.
Saya
mencoba flash back ke Euro 2008, pada saat Spanyol menjuarai turnamen
dengan mengalahkan Jerman 1-0 di final. Vicente del Bosque waktu itu
berkilah bahwa kunci juara Spanyol dalam turnamen itu bukanlah
pertandingan final yang mereka menangkan, tapi justru pada perempat
final melawan Italia di mana mereka melewatinya dengan sangat sulit dan
harus melalui tos-tosan adu penalti. Memang dari awal, Spanyol selalu
kesulitan jika menghadapi tipe permainan Italia yang sangat solid di
belakang dan dipagari oleh dua gelandang bertahan yang oke punya. Italia
memang selalu diberkahi oleh gelandang-gelandang bertahan yang mumpuni
dan dapat berperan sebagai playmaker pada saat bersamaan. Dimulai dengan
jamannya Giuseppe Meazza, Marco Tardelli, Carlo Ancelotti, Angelo di
Livio, hingga jamannya De Rossi dan Pirlo sekarang ini.
Terbukti
jelas bagaimana Jerman merasa kebingungan pada saat berhadapan dengan
dua pemain ini, handal dalam merebut bola dan mempertahankannya,
kemudian tiba-tiba memberikan operan yang sangat akurat dan
membahayakan.
Spanyol
juga memiliki catatan yang bagus untuk jumlah kebobolan selama turnamen
berlangsung. Hanya satu gol saja yang bersarang di gawang Iker
Cassilas... dan itu dilesakkan oleh Antonio di Natale di pertandingan
pertama melawan Italia yang berakhir 1-1. Bukti bahwa memang hanya
Italia yang sangat sulit dikalahkan pada saat berhadapan dengan Spanyol.
Taktik
dari pelatih cerdas sekelas Cesare Perrandelli sangat dibutuhkan
sekarang. Pada laga awal melawan Spanyol, dia menurunkan hanya 3 pemain
belakang, yaaa... cuma tiga saja dan salah satunya De Rossi yang
notabene seorang gelandang. Menumpuk di tengah dengan 5 orang untuk
memutuskan bola-bola aliran Spanyol memang ternyata sangat efektif.
Namun sayang, mereka agak lengah di menit akhir sehingga Fabregas dapat
menyamakan kedudukan. Tapi dunia sudah dibuat terkagum-kagum dengan apa
yang Italia coba lakukan. Dan terbukti mereka melenggang ke final.
Masalah
utamanya adalah Spanyol sudah tahu taktik ini, dan pastinya akan del
Bosque akan meramu kembali taktik mereka untuk menghadapi
pressure-pressure gelandang bertahan Italia. Skema "False 9" yang selalu digunakan mungkin akan dirubah sedikit, untuk mencari celah di dalam pertahanan Italia. "False 9"
yang tidak menggunakan striker murni ini memang berhasil untuk mengecoh
lawan pada saat akan melakukan man to man marking, tapi sepertinya tipe
pertahanan yang digalang Italia terlalu kokoh dan lebih memainkan zona
marking. Crossing pun sering patah di kepala Chielini, dribbling akan
dihadang tackling dari Bonucci, sehingga satu-satunya cara adalah dengan
tusukkan-tusukkan langsung yang dikombinasikan dengan pergerakan
without ball setiap pemain tengahnya. Dan tetap berusaha mematikan Pirlo
juga Marchisio untuk memberikan sedikit pressure pada pemain Italia
yang lain.
Akhirnya
mental akan menjadi penentu, dua kapten yang sudah sangat teruji untuk
masalah seperti ini akan menjadi tulang punggung untuk selalu
menyemangati dan mempertahankan kekompakan tim. Buffon dan Cassilas
memang sudah menjadi kiper terbaik dunia abad ini ke satu dan ke dua,
keduan pun pernah mengangkat Piala Dunia, tapi pertandingan bergengsi
ini tidak akan menjadi ajang buat keduanya untuk tetap bersaing di level
tingkat tinggi. Keduanya sudah membuktikan kehandalan dalam menghadang
adu penalti, tapi saya yakin kedua tim akan menghindari adu penalti.





